Kau boleh mengambil semua milikku, Tuhan.
Semua milikku yang kuanggap paling berharga.
Ibuku, adik-adikku, keluargaku, harta, karir dan pekerjaan.
Semuanya, Kau boleh ambil semuanya.
Ibuku, adik-adikku, mereka bukan milikku melainkan punyaMu.
Sama seperti bapakku, sedikitpun tak kupunya hak menahan-nahannya.
Keluarga besar dan harta yang kami miliki, itupun boleh Kau ambil.
Harta apa yang kami punya di bumi, selain tanah tempat berpijak dan langit di atas kepala.
Tak ada harta dan kekayaan yang kami punya.
Karir dan pekerjaanpun, silahkan Kau ambil.
Karna yang kutahu, tanganMu tetap menyuapi mulut ini.
Kau boleh, Tuhan.
Hampir semua pernah kualami, hampir semua pernah kujalani.
Harga diri tak lagi kupunya, dan aku tak tahu lagi cara menghargai diri.
Tak ada yang harus dan dapat kutahan-tahan bila Engkau yang menetapkan.
Dan aku terlalu siap menerima semua, tak ada lagi kejutan.
Sebagai laki-laki, sedikit yang kutahu apa itu hidup.
Hidup adalah menerima dan menjalani dengan kekuatan sebagai lelaki.
Karna sebagai lelaki, tak ada tempat untuk mengeluh, tak ada yang mau mendengarkan.
Hidup itu keras untuk lelaki.
Tidak ada keadilan dan belas kasih untuk lelaki.
Mati, matilah saja. Derita, menderitalah saja.
Aku akan menangis bila memang beban itu tak tertahankan.
Tapi tak kuharap akan ada yang iba.
Sebagai manusia, yang kutahu waktuku singkat.
Tubuhku najis, darahku najis, bahkan jiwaku najis.
Hanya aku yang pernah mengidamkan utopia, bahwa dunia berjalan dengan adilnya.
Berharap tak ada pembedaan karena perbedaan itu nyata.
Tanpa melihat nenek moyang yang mana yang mewariskan perbedaan.
Dan yang kuidamkan, yang kuharapkan, ternyata haram, terlarang.
Aku tak bisa membolehkan yang tidak dibolehkan.
Diriku bukan milikku, tapi milikMu.
Sebagai mainanMu, aku menyadari keberadaanku.
SesukaMu menetapkan peranku, jalan cerita, dan di kotak mana aku akan disimpan.
Engkau empunya mainan.
Beberapa terlahir untuk menjalani hidup dengan mulusnya, sebagian lagi adalah kebalikannya. Dan posisiku adalah di oposisi itu.
Namun pintaku, kelak bila sudah habis masa pakaiku, yaitu kematianku, jangan biarkanku mati dalam kejahatan dan dosa.
Kau boleh, Tuhan. Kau boleh.
Labels: Divine Talk, Soul Pulse
Read full post with comments.